HASIL KARYA MENULIS PENGALAMAN PRIBADI SISWA – SISWI SMA NEGERI 1 KUTA SELATAN
DALAM RANGKA E – KOMPAS (KOMPETISI AKADEMIK SISWA) TAHUN 2020

By - Teknosaka Team 03 Jun 2020, 11:07:19 WIB Komunitas

B A T A S A N

Oleh : Ni Putu Gita Indah Cahyani

Hari demi hari berlalu dengan batasan yang tak ada satu orang pun yang bisa menjawab kapan ini akan berakhir. Semua orang hidup dalam tanda tanya besar. Sudah berapa lama kita dirumah saja? Sangat lama dan masih berlanjut entah sampai kapan. Bosan sudah nyata adanya, tapi kini sudah menjelma menjadi teman karib. Sepi bagaikan kawan lama yang menyapa. Tanpa sadar, kita sudah berjalan cukup jauh dalam batasan ini, sampai bermunculan kebiasaan baru yang awalnya terasa asing namun hari ini sudah menjadi suatu kebiasaan.

Pagi ini, aku mendengar keluhan frustrasi seorang ayah dengan ayah lainnya di sudut jalan komplek rumahku. Topik utamanya; kekhawatiran tentang kehidupan finansial keluarga. Diberhentikan dari pekerjaannya menjadi tantangan besar untuk bisa menghidupi keluarga. Bukan perkara mudah untuk bertahan hidup di tengah kota ini.

“Sudah ndak kerja, kebutuhan makin banyak, pusing aku! Mau makan apa keluargaku nanti, “kata salah satunya dengan nada frustrasi.

Masalahnya bukan hanya itu, ada banyak masalah lainnya yang terjadi karena pandemi ini. Ada banyak rencana yang terpaksa diurungkan. Kekecewaan bergema dimana-mana, semuanya mengutuk keberadaan virus yang dinamai serupa dengan bagian paling luar dari atmosfer matahari itu. Suatu hari sepupuku bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang pemain kriket. Tahun ini adalah tahunnya mewakili Provinsi Bali dalam pertandingan nasional di Bogor. Aku yakin, kau pun bisa menebak apa akhir dari cerita itu. Iya, semuanya dibatalkan. Ajang besar seperti kejuaraan tenis dunia yang seharusnya digelar di Korea Selatan saja harus rela dibatalkan apalagi ajang nasional. Latihannya berbulan-bulan pupus tanpa sedikitpun harapan

“Jangan dibatalin kek, kan kecewa tau! Kita sudah latihan dan sudah siap. Setidaknya bisa dimundurin jadwalnya, kita bakal terima kok. Tapi surat itu tiba-tiba bilang dibatalkan. Siapa yang ngga sedih coba,” ucap emosi bercampur sendu sepupuku yang malang sambil menyodorkan handphonenya yang berisi surat digital dari pusat pemerintahan provinsi. Tulisan ‘dibatalkan’ sengaja dicetak tebal, seakan-akan sengaja ingin menelanjangi kekecewaan yang dirasakan pembacanya.

Kekecewaan yang sama dirasakan oleh semua lulusan tahun 2020. Genap tiga tahun bersekolah namun tak ada perpisahan dan tiba-tiba saja harus melangkah menuju jalan masing-masing tanpa berpamitan, tanpa berjabat tangan merayakan kelulusan, tanpa membuat kenangan terakhir, tanpa berucap ‘semoga sukses’ secara langsung, tanpa bilang ‘terimakasih’ pada guru-guru yang membimbing. Kondisi ini benar-benar mengecewakan.

Disamping itu virtual, telekonferens, dan video call tiba-tiba menjadi pahlawan. Semua kegiatan, pekerjaan, bersekolah, semuanya serba online. Awalnya terasa aneh, tapi lagi-lagi kita akan terbiasa. Benar, walaupun kondisi ini menghimpit kita dalam beraktifitas, bukan berarti kita hanya bisa diam dirumah dan meratapi detik demi detik yang berlalu tanpa arti jika kita benar-benar hanya diam.

Hal itu terlihat jelas pada pemandangan baru yang terjadi di sekitar lingkunganku. Entah dari mana asalnya, sepasang suami istri berkeliling komplek setiap pagi untuk menawarkan ikan. Si suami mengendarai motor dengan mesin yang bersuara “treketek-ketek” dan si istri berteriak dengan lantang, “Ikaaaaaaan….Ikaaaaaaaa…” Bahkan suaranya mengalahkan deru motornya sendiri. Dalam hati berharap suaranya mampu menembus tembok demi tembok penghuni komplek agar membeli ikan jajalannya. Dibalik suaranya yang lantang itu, ada kegigihan yang menyeruak untuk bisa menghidupi keluarga.

Hampir dua bulan batasan ini terjadi, aku bahkan bertanya-tanya apakah aku masih ingat cara mengendarai milea (nama motorku) atau akan belajar dari awal lagi? Semoga saja tidak. Batasan ini benar-benar mengisolasi semua kegiatan. Aku yakin, semua orang punya target dalam hidupnya. Kita semua punya goals. Namun kondisi ini pula membuat kita hanya bisa diam ditempat sedangkan semua rencana yang sudah terancang menuntut kita bergerak keluar. Dan pada akhirnya, kita mengalah pada kondisi ini dan membiarkan rencana-rencana itu berserakan. Berusaha memahami kondisi ini memang sulit adanya. Namun lagi-lagi kita akan terbiasa.

Kebiasaan lainnya, aku lebih sering berdiskusi dengan ayah dan ibuku. Mereka kini lebih sering dirumah. Aku lebih sering bermain dengan adik-adikku, lebih sering menonton film, lebih sering tidur siang, lebih sering memasak dirumah ketimbang membeli diluar, lebih sering bereksperimen di dapur dari membuat dalgona sampai membuat bakso sendiri. Dan sekarang batasan ini membuatku terbiasa.

Memasuki pertengan bulan mei, angin bertiup kencang. Pemandangan baru lainnya terasa mengelitik perut. Demi menyenangkan putra-putrinya, para ayah di sekitaran komplek menerbangkan layang-layang, begitu juga ayahku. Setiap sore, langit menjadi tempat persinggahan kerangka bambu yang dibungkus plastik. Melayang-layang di udara dengan pesonanya dari berbagai bentuk, walaupun rata-rata bentuknya burung hantu. Antusias anak-anak kecil melihat ayahnya menerbangkan layang-layang membuatku tak bisa memungkiri jika bukan karena batasan ini mungkin pemandangan langit seramai itu tidak akan pernah ada.

Beberapa hari lalu, sebuah artikel di internet menyatakan bahwa lapisan ozon semakin hari semakin membaik. Benar saja, langit terlihat lebih jernih dan para bintang lebih sering terlihat belakangan ini. Batasan ini membuat alam memdapati dirinya sedang diperbaiki oleh keadaan. Jalanan yang biasanya padat oleh kendaraan dan polusi, kini berubah menjadi lebih lenggang dan polusi kalah saing.

Dari semua pemandangan baru yang kini menjadi sebuah kebiasaan itu, tercipta pertanyaan-pertanyaan baru pula. Apakah batasan ini tercipta untuk memperbaiki segala yang rusak oleh keterbatasan waktu? Selama ini kita hanya bisa mengutuk virus itu agar segera enyah dari permukaan bumi. Setelahnya, apakah pemandangan-pemandangan baru ini akan hilang? Aku bukannya senang akan keberadaan batasan ini, hanya saja berusaha mengamati lebih jauh lagi tentang semua dampak yang tercipta. Ternyata tidak semuanya buruk, tapi ada pula yang baik seperti lebih banyak waktu dengan keluarga, lebih banyak waktu mengeksplorasi diri, lebih terbiasa berhemat, lebih sedikit polusi, langit lebih jernih, bintang lebih sering terlihat, lebih sedikit kemacetan.

Walaupun ada banyak dampak baru yang terasa nyaman buatku, aku tetap tidak ingin virus itu berlama-lama ada di bumi. Tak tega melihat para tenaga medis dan pemerintah yang mati-matian mencegah penyebaran virus yang begitu pesat ini. Disamping itu, faktanya, manusia adalah makhluk yang dituntut untuk bisa beradaptasi dan itu bukan hal mudah dilakukan. Aku sangat merindukan suasana keramaian kelas dan kekonyolan yang dibuat penghuninya, rindu momen-momen dimana kita suka mengeluh terhadap banyaknya tugas, rindu suasana perpustakaan sekolah, rindu suasana jam kosong, suasana riuh di kantin. Rindu jalan menuju sekolah, rindu bagaimana keruwetan parkiran sekolah.

Bertahanlah. Batasan ini akan berakhir sesegera mungkin. Nikmati pemandangan yang ada hari ini sebanyak yang kau bisa. Karena belum tentu akan ada lagi di esok hari. Percayalah, tidak semuanya buruk. Aku pun tak bisa memungkiri, menelan bulat-bulat kekecewaan bukanlah perkara mudah. Melihat semua yang telah dirancang menjadi sia-sia butuh jiwa yang lapang, menerima bahwa perpisahan benar-benar tidak ada butuh hati yang kuat, semuanya benar-benar tidak mudah.  Kesulitan ini bukan hanya milikmu, tapi milik kita bersama. Lakukan sesuatu yang membuatmu jauh dari kebosanan. Amati sekelilingmu, sadari apa yang berubah. Jika hanya rebahan pastinya kau tak akan melihat apa-apa dan akan terasa sangat lama untuk melihat pagi berganti menjadi malam. Jika hanya mengeluh, yang ada hanyalah kekosongan. Lakukan sesuatu yang membuatmu bisa mengenang hari ini dengan penuh bangga dan bisa kau ceritakan 10 atau 15 tahun lagi bahwa kau pernah melewati pandemi ini.  Badai akan berakhir sebentar lagi. Semoga kita semua dalam keadaan sehat ya, salam dariku yang sedang #dirumahaja.

“Batasan ini tidak lebih dari sekadar ujian. Jangan biarkan ia memenangkan permainannya sendiri.  Jadikan ujian ini bermakna. Berkaryalah, walaupun sedang dirumah saja.”

-Gita  Indah Cahyani-

 

 

Bunga di Tembok

Oleh : Rachel Rae Kusuma

Hari -2

            Arghh pokoknya aku lelah. Berapa kali lagi aku harus menguras energiku seperti ini? Aku mengerti bahwa belajar dan ke sekolah adalah kewajibanku sebagai murid, tapi sungguh aku muak! Hei jangan salah paham, seperti yang kamu ketahui, aku memang sesonggok daging yang sungguh penasaran, aku pun tak alang kepalang mencari ilmu baru. Menambah wawasan baru tentunya memberi rasa puas, seperti bilangan apapun dibagi nol...haha iya, rasa puas yang tak terdefinisi. Apalagi bertemu dengan teman – teman, bersosialisasi dan bertukar pikiran. Tapi nyatanya aku sungguh buntur dengan rutinitas seperti ini.

Ditambah lagi kebiasan burukku yang tak kunjung gentas.  Salah satu sifatku yang selalu ingin sempurna atau perfectionist ini, sudah bisa masuk dalam kategori sifat burukku. Karena sifat perfectionistku, aku cenderung berambisi untuk melakukan segala sesuatu dengan baik dan sempurna, sehingga aku kewalahan sendiri. Oh iya satu lagi, aku akui, aku memang sangat kurang disiplin tentang masalah waktu. Keteledoranku dalam waktu, sudah menjadi penyempurna dalam semua kekacauan ini. Seperti kejadian jumat kemarin, aku telat masuk sekolah hanya lima menit. Ya akhirnya pak guru kesayangan itu, membuatku harus menjadi cleaning service paruh waktu. Arghh berbicara tentang sekolah saja sudah cukup untuk membuatku gila.

Setelah sekitar 6 jam sekolah akhirnya aku bisa balik ke rumahku yang sederhana dan indah ini. Tapi untuk menuju ke rumahku, kita harus melewati hutan semak dengan jalan semi beraspal. Letak rumahku memang jauh dari rumah lain, tapi itu yang membuatnya sangat istimewa. Jauh dari bising kota dan digenapi oleh pemandangan yang spektakuler. Semua itu memang indah...jika tidak masuk ke dalam  kamarku. Ruangan berukuran enam kali tujuh meter persegi dengan sebuah balkon tersebut sudah seperti kapal pecah. Aku yang selalu mengundur ngundur waktu agar bisa merapihkan dan membersihkannya dengan sempurna, membuatnya terlihat seperti toko yang sedang obral barang besar besaran. Belum lagi banyak sekali boneka dan mainan masa kecilku yang tidak tega aku berikan kepada orang lain. Kondisi amburadul seperti ini bisa membuat pikiran dan perasaanku semakin ambyar! Yang lebih menjengkelkannya, setengah bagian pemandangan dari balkonku ditutupi oleh tembok vila besar. Arghh ingin sekali aku menggempur vila tersebut.

Itu sebabnya aku sangat jenuh berada di kamarku. Motor hitam yang aku pakai sudah lebih dari lima tahun menjadi sarana pelarianku dari semua kerancuan ini. Membawa 8 barang esensialku yaitu, handphone, pengecasan, kacamata, dompet, Ikat rambut, Jam tangan, kunci rumah dan earphone rasanya sudah lengkap jika aku ingin melarikan diri dari semua ini. Meski hanya keluar rumah selama 3 jam saja, sudah cukup untuk setidaknya memudarkan warna kerak tebal yang mengotori pikiranku. Jika kamu bertanya tentang orangtuaku, tentu saja mereka mangkel. Orangtua siapa yang tidak dongkol dengan anak yang kerjanya keluar rumah tanpa memperhatikan kebersihan kamarnya. Sampai ibu menyebutku sebagai anak kost-an, di rumah hanya makan dan tidur.

Oh iya, hari ini adalah hari terakhir sekolah. Maksudnya kami kelas X dan XI akan diliburkan selama dua minggu karena ujian kakak kelas XII, sekaligus libur hari raya nyepi. Huft, akhirnya aku bisa beristirahat meski hanya untuk empatbelas hari. Sebenarnya hari senin ada kerja bakti, tapi sepertinya aku sudah cukup menjadi cleaning service selama seminggu ini hehehe.

Ngomong – ngomong, apakah kamu dengar tentang Virus baru dari Wuhan tersebut. Iya, virus Covid – 19. Aku sempat melihat beberapa cuplikan orang yang terjangkit virus tersebut dari Cina. Sungguh menyengkak, melihat orang pingsan mendadak di jalan, dan orang disekitarnya hanya bisa melihat dan menunggu sampai petugas medis yang berwewenang datang. Karena memang iya, virus tersebut dapat menyebar sangat cepat hanya dari droplet orang yang terinfeksi. Iiii dan kabarnya, di Indonesia sudah ada orang yang terinfeksi. Hmm apapun yang terjadi semoga keadaan tidak semakin parah.

Hari 1

Tapi ternyata aku salah! Keadaan semakin buruk. Hal yang tak pernah terlintas di kepalaku benar benar terjadi. Mulai tanggal 16 Maret ini, kami diharuskan untuk belajar dan bekerja dari rumah karena pandemi virus Corona. Kami dihimbau pemerintah untuk meminimalisir kegiatan di luar rumah. Haha aku jadi merasa bersalah, tapi entah mengapa separuh otakku sedang berpesta pora mendengar kabar ini. Akhirnya aku bisa mendapatkan waktu istirahat yang layak. Dengan ini aku dapat mengatur waktu dan menata ulang rutinitas sehariku yang selama ini menguras kering energiku. Dan paling penting aku akan punya waktu banyak untuk merapikan bukan hanya kamar, tapi juga pikiranku.

Tapi tentunya saja sisa setengah otakku sedang gelebah dan tentunya cemas mengenai pandemi ini. Banyak pertanyaan mulai muncul dalam otakku. “Bagaimana jika?...Tapi apakah mungkin?...Kalau nanti begini bagaimana?” Tentunya saja pandemi virus Corona ini akan berdampak fatal bagi semua orang. Sekarang setengah otakku sedang berdebat dengan bagiannya yang lain. Pertikaian antara keresahan dan optimisme ku tak kunjung larut. Seperti warna cat yang pekat melapisi dinding putih tebal hingga berlapis lapis hingga sudah hampir tak terpandang warna putihnya lagi. “Tunggu!”, bulu kudukku mendadak naik dan pupil mataku mengecil, karena terlintasnya dalam pikiranku tentang suatu hal. “Dengan semua yang terjadi ini, aku tidak akan bisa keluar rumah. ARGHH Bagaimana dengan pikiranku yang sudah tak tahu dimana ini!” Selangkah lagi, aku akan melewati batas kewarasanku. Ini sungguh mimpi buruk!!

Hari 4
Waktu terlampui seperti jam rusak. Terasa seperti jam tidak berdetik sekalipun. Kapan ini akan berlalu? Sungguh perasaan suntuk terparah yang pernah aku rasakan. Semua kelas dan pembelajaran beralih dan bertransformasi menjadi tumpukan tugas yang tak ada akhirnya.  Aku salah mengenai asumsiku bahwa aku akan dapat mengatur waktuku lebih baik. Nyatanya aku semakin kewalahan. Seperti pukulan bertubi tubi. Mana lagi keadaan kamarku yang semakin kritis.

Tugas demi tugas semakin bertumpuk. Karena terlalu banyak hal yang harus dilakukan, aku menjadi beku. Aku kebingungan sendiri dari mana aku harus mulai. Sugguh menyedihkan, yang kulakukan hanya berbaring mati di ranjang, menatap langit langit dengan tatapan nanar. Sikapku yang sudah tak ingin peduli ini mengundang orangtuaku untuk menceramahiku tak ada hentinya. Sudah tidak bisa dihitung jari berapa kali aku sudah bersilat lidah dengan ibuku.

Hari ke entah keberapa.

“DUARR!!” suara bantingan pintu yang keras.  Aku membanting pintu kamarku dengan mata yang sudah tak sanggup menahan air yang berlinang. Dentuman langkah kakiku yang keras sudah bisa menceritakan suasana hatiku. “Aku tak tahan lagi! Padahal hanya permasalahan kecil, orangtuaku harus marah kepadaku. Seakan aku melakukan dosa yang tak bisa dimaafkan.” Hal tersebut sudah melewati batas kesabaranku. Seperti lemari yang sudah tak tahan begitu banyaknya barang didalamnya. Pada akhirnya semua barang tersebut keluar. Semua perasaanku keluar. Aku mengeluarkan semua perasaanku. Menangis dan berteriak sudah seperti orang gila.

Disaat itu suasana kamarku remang remang. Saat itu pukul 4 sore dengan langit kelabu dan rintik hujan ringan. Setelah semua perasaanku sudah keluar, akhirnya aku membisu. Terlentang tubuhku dan kepalaku menghadap ke arah kaca balkon dengan pandangan terbalik. Dengan tangisan pelan, jendela tubuhku menyadari sesuatu. Dari awalnya menatap dengan pikiran kosong, aku tersadar akan sesuatu. “ Bunga depan itu, Bunga di tembok, ternyata sungguh indah ya.” Selama hidupku ini, tak pernah sadar aku tentang betapa indahnya bunga yang terjuntai di tembok vila depan balkonku. Aku berdiri dan menatap bunga di tembok itu lebih lama lagi. Lalu aku berpikir sejenak. Mungkin memang benar, aku terlalu fokus akan hal yang membuatku tidak nyaman, hingga hal seindah itu aku tak sadar. Aku mengerti sekarang, terkadang hal yang tidak kami harapkan itu lebih indah dari yang diharapkan. Tuhan memang punya rencana terbaik untuk kita. Tak perlu mendaki ke puncak gunung untuk dapat melihat keindahan, tapi dari kaki gunung pun keindahan tersebut sudah terpancar. Meski digelapnya ruangan, kegelapan itu akan hilang cahaya kecil.
 

 

ATURAN PEMERINTAH YANG MENGHUKUM MASYARAKAT,

BUKAN “MENGHUKUM” VIRUS CORONA

Oleh: I Made Arya Gili Adnyana

Corona, ketika mendengar kata tersebut seakan-akan aku dihantui oleh ketakutan yang tak akan pernah hilang dalam pikiranku. Kedatangannya seakan-akan mengambil alih planet bumi ini, mengatur dan memerintah seluruh populasi dan komunitas yang ada di dalamnya, termasuk manusia. Manusia yang mempunyai jabatan tertinggi pun “tunduk” pada makhluk hidup yang dinamakan Virus Corona ini. Berbagai aturan telah ditetapkan oleh manusia demi menghentikan Corona, mulai dari PSBB, PKM, karantina hingga breakdown. Namun malah sebaliknya, Corona-lah yang menghentikan manusia. Banyak aturan yang telah ditetapkan, namun sepertinya Corona adalah penjahat yang kebal terhadap aturan. Banyak kisah yang tercipta akibat “aturan-aturan” tersebut dan inilah kisahku.

Kenalkan, aku Arya Gili. Aku adalah manusia biasa yang ingin ikut berjuang dalam “mempenjarakan” virus Corona. Sudah 2 bulan lebih rasanya sekolah diliburkan dan semua aktivitas belajar aku lakukan di habitatku yang disebut dengan rumah. Jujur saja, saat diumumkan bahwa sekolah diliburkan aku merasa senang karena aku bisa berdiam diri di habitatku dan bermain bersama teman-teman. Namun sayangnya, itu hanyalah sebuah khayalanku semata. Semenjak manusia dengan jabatan tertinggi yang disebut sebagai pemerintah menerapkan program Social Distancing dan Stay at Home, seakan-akan aku merasa dikurung di dalam habitatku sendiri. Seperti yang sudah kukatakan, belajar dari rumah pun menjadi solusi pelaksanaan pendidikan di tengah invasi yang dilakukan oleh Corona. Namun sangat disayangkan, pemerintah lupa dengan kondisi masyarakatnya sendiri. Karena tidak semua golongan masyarakat dapat menjangkau akses internet untuk melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh. Tapi, terima kasih aku ucapkan kepada sekolahku yang telah memberikan akses internet secara gratis kepada siswanya (ya walaupun aku rasa itu sedikit terlambat).

Hari demi hari pun telah berlalu, berbagai peraturan “aneh” telah banyak ditetapkan. Namun, setiap harinya jumlah korban terinfeksi semakin meningkat dan membuat kita semakin takut. Walau demikian, masih banyak orang yang berani mengambil resiko demi membantu garda depan dalam melawan Corona, dan merekalah yang disebut sebagai relawan. Melihat banyaknya relawan yang ikut serta, membuatku termotivasi untuk menjadi salah satu dari mereka. Berbagai inisiatif dan rencana telah aku buat demi maju bersama di garda depan. Mulai dari memberikan sumbangan bahan pokok, alat-alat kesehatan hingga penyemprotan disinfektan. Untuk mendukung rencanaku tersebut, aku pun mengajak seluruh anggota ekstrakurikuler KIR untuk ikut berpartisipasi (karena aku juga merupakan salah satu anggotanya).  Selain itu, aku juga mengajak organisasi-organisasi besar yang ada di sekolahku seperti PASKIBRA, OSIS dan SISPALA. Ketika kita melakukan diskusi bersama, pihak OSIS menyarankan agar kita melakukan koordinasi terlebih dahulu kepada pihak sekolah. Namun sangat disayangkan, pihak sekolah menolak rencana yang telah kami susun bersama karena alasan-alasan yang “tidak” masuk akal. Namun, keinginanku untuk maju di garda depan tidak berhenti sampai di sana. Aku pun berusaha untuk berdiskusi dengan pembina ekstrakurikuler KIR yang ada di sekolahku. Setelah berdiskusi panjang, akhirnya pembinaku juga menolak rencanaku karena peraturan pemerintah yang ketat dan juga aku masih dianggap di bawah umur. Sepertinya, pemerintah benar-benar telah “mengurung”-ku di habitatku sendiri. Karena demikian, aku pun kembali melakukan tugas muliaku sebagai seorang pelajar yaitu belajar.

Untuk menindaklanjuti kegiatan belajar di rumah, guru-guru sering kali hanya memberikan kami tugas, tugas, tugas dan tugas tanpa memberikan pemahaman materi terlebih dahulu. Jujur saja, hal itu membuatku sedikit merasa “tidak hormat” kepada guru-guru lantaran tugas yang terus berdatangan. Sebenarnya, aku tidak menolak untuk diberikan tugas-tugas tersebut namun aku hanya menuntut guru-guru agar memberikan pemahaman materinya terlebih dahulu. Mungkin karena satu dan lain hal, Pak Nadiem selaku Menteri Pendidikan Indonesia akhirnya melarang guru-guru untuk memberikan tugas kepada siswanya dan akhirnya kami pun diminta untuk belajar melalui siaran televisi nasional. Walaupun demikian, pihak sekolah tetap memfasilitasi kami salah satu layanan pendidikan berbasis online yaitu Ruangguru. Hal tersebut dilakukan agar kami siap untuk mengikuti tes Penilaian Akhir Tahun di sekolah. Aku pun memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Hampir setiap hari aku gunakan layanan tersebut untuk belajar agar diriku semakin siap menghadapi tes yang akan datang. Sebelum mengikuti tes, kami mengikut beberapa simulasi agar lebih memantapkan diri ketika tes yang sebenarnya dimulai.

19 Mei 2020, akhirnya tes Penilaian Akhir Tahun selesai. Aku pun merasa cukup lega dan merasa memiliki waktu luang karena tesnya telah usai. Dan aku berharap, ada toleransi yang diberikan dari pihak guru terhadap nilaiku karena mengingat pembelajaran yang aku lakukan tergolong otodidak. Karena tugas-tugas dari sekolah telah selesai, sepertinya tidak ada apa-apa yang bisa aku lakukan demi membantu pemerintah dalam melawan Corona. Mungkin pemerintah sudah merasa benar karena telah “mengurung” masyarakatnya. Namun dibalik itu semua, pemerintah lupa bahwa yang seharusnya dihukum adalah Corona bukan masyarakatnya. Walaupun begitu, aku rasa pemerintah telah melakukan yang terbaik demi menyelamatkan masyarakatnya walau terpaksa harus mengurungnya di habitatnya sendiri.

Itulah kisah singkatku yang ingin ikut berjuang di garda depan melawan Corona. Namun perjuanganku berakhir karena terhalang oleh aturan pemerintah. Aku berharap, semoga pandemi Corona ini cepat berakhir dan kita bisa kembali beraktivitas seperti semula. Dan tidak lupa, terima kasih aku ucapkan kepada para pembaca karena telah membaca tulisan ini. Saya akhiri dengan kata-kata sebagai berikut :

“Jika kamu ingin membantu Indonesia hanya dengan rebahan,

sekaranglah waktu yang tepat”

- Anonim -




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment